OPINI

Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!

15
×

Selamat Tinggal? Media Lokal Kaltara Terancam Tutup Serentak!

Share this article

Memasuki tahun 2026, puluhan media website lokal saling berebut pembaca dalam wilayah yang jumlah penduduknya bahkan belum menyentuh satu juta jiwa. Jika harus berkompetisi secara brutal dalam ruang sekecil ini, persoalannya menjadi tidak masuk akal.

Sebagian besar media lokal baru lahir dengan harapan hidup yang sederhana: meraih pembaca sebanyak mungkin, lalu mendapat kontrak publikasi dari pemerintah daerah atau dilirik brand besar untuk beriklan. Itulah mimpi yang ‘mereka kira’ paling realistis.

« of 2 »

Namun kenyataan di lapangan jauh lebih keras. Jumlah pembaca lokal sangat terbatas, pihak swasta tentu belum percaya pada media kecil, sementara pemerintah daerah hanya mampu menampung segelintir media yang sudah punya nama besar, rekam jejak yang jelas, dan yang terpenting memiliki kedekatan tertentu. Ironisnya, indikator profesionalitas sering kali masih kalah oleh faktor non-teknis ‘orang dalam’ yang sulit dibicarakan secara terbuka.

Baca Juga  Tuduhan Novel Soal Pelanggaran Kode Etik Wakil Ketua KPK Dinilai Ngawur dan Tendensius

Di sisi lain, jalan panjang merintis media sangat menguras waktu, biaya, dan semangat. Cepat atau lambat rasa putus asa itu pasti akan tiba juga. Ini berarti, persoalan utama bukan terletak pada kualitas pemberitaan. Banyak media lokal sebenarnya jauh lebih bekerja serius, idealis, dan memahami jurnalisme. Masalahnya justru terletak pada sistem monetisasi yang memaksa media-media kecil ini untuk saling bertempur dalam ruang yang sempit.

Sistem pembayaran iklan global mensyaratkan trafik pembaca dalam jumlah besar. Padahal, basis pembaca lokal di Kalimantan Utara sangat terbatas secara demografis. Akibatnya, media kecil dipaksa mengejar angka yang mustahil bisa dicapai.

Baca Juga  Tragedi Kebakaran 2 Rumah Wartawan Sumut: Berita Dinanti, Kritis Dihabisi

Para media kecil akhirnya berjuang dan kalah sendirian. Sebab perhatian publik cenderung bersandar pada kanal-kanal media arus utama yang sudah lama dikenal.

Lagi pula, siapa yang mau buka dua atau tiga website berbeda hanya untuk membaca satu berita yang sama?

Dengan pola lama seperti ini, kita sebenarnya hanya tinggal menghitung waktu sampai media-media lokal ini tutup satu per satu. Bukan karena berita mereka jelek atau websitenya kurang update, melainkan karena sistem sejak awal tidak memberi mereka ruang hidup yang adil.

Ditulis oleh: Fitri Zulkarnain, Praktisi Rekayasa Sosial dan Pengembang Teknologi

Author

Bagikan ini...

Leave a Reply

Verified by MonsterInsights